-refleksi live in-
Pulung Wismantyoko, Yustinus
“Meskipun setiap orang rindu akan kebenaran, tapi reaksi pertama yang
muncul ketika berhadapan dengan kebenaran itu adalah takut
dan lari dari kenyataan”.
-Managamtua Heribertus
Simbolon SJ_12/10-09
Yang penting bukan di mana
Tapi bagaimana aku menjalaninya…
Refleksi ini tidak hanya mengisahkan perjuanganku memaknai setiap titik pengalaman live in-ku di KPTT (Kursus Pertanian Taman Tani), Salatiga, Jawa Tengah tetapi juga akan memberikan kesaksian tentang perjuanganku mengerahkan seluruh energiku untuk mencari Allah. Wuih kelihatannya keren kan, untuk itu silakan membaca refleksi sederhana ini semoga bisa menjadi insipirasi bagi kita semua
Pada tanggal 7 Oktober sampai dengan 12 Oktober 2009 semua seminaris Medan Utama angkatan 96 mendapat kesempatan untuk mengalami live in. Bagiku Live in itu tidak sekedar tinggal (live) tapi juga bagaiamana merasa in di tempat dan suasana baru. Maka, sebenarnya aku ditantang untuk live dan merasa in di mana pun aku berada.
Sebenarnya aku ingin sekali ditempatkan di SD Eksperimen Mangunan Kalasan, Yogyakarta. Selain bisa mengenal lebih dekat semangat dan humanisme Romo Mangun, aku juga bisa mengalami sendiri mendampingi anak-anak miskin di sana. Namun, apa mau dikata ternyata Tuhan menginginkan aku untuk belajar menyalurkan energi kreatifku dari tanaman. Aku diajak untuk belajar bertani di Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) Salatiga, Jawa tengah. Pada prinsipnya aku menerima di manapun aku akan ditempatkan. Walau ada sedikit rasa kecewa tapi bagiku itu tidak menjadi masalah lantaran aku sudah mendisposisikan batinku bahwa “yang penting itu bukan di mana aku akan ditempatkan tapi bagaimana aku akan menjalani, tinggal (live) dan merasa in dengan suasana dan orang-orang baru”. Seperti kata Romo Mangun, “Di mana hati diletakkan di situlah proses belajar dan menjadi dewasa dimulai”, aku akan belajar dari kejutan-kejutan yang mungkin akan aku jumpai nanti. Aku akan selalu terbuka dengan berbagai pengalaman baru, orang-orang baru dan suasana baru.
Out of Boundaries
Selama hampir sembilan belas tahun aku hidup di dunia belum pernah aku mengenal tentang pertanian, kecuali satu kesempatan home stay lalu di Banyutemumpang, itu pun hanya 3 hari 2 malam. Selain itu, aku sama sekali buta pertanian. Sama sekali tak ada gambaran yang bisa menjelaskan kepadaku tentang apa yang akan terjadi nanti. Di satu sisi ada perasaan takut yang mengahalangiku melangkah lebih jauh, namun di sisi lain aku ditantang untuk siap sedia belajar dan beradaptasi di manapun aku berada.
Sampai pada titik itu aku tersadarkan oleh pengalaman outbound ketika libur lebaran lalu. Seperti halnya pengalaman outbound di Youth Center itu, untuk dapat keluar dari batasan-batasan (boundaries) pertama-tama aku harus belajar mengenali ketakutan-ketakutan yang selama ini menjadi benteng diriku. Dengan demikian akan lebih mudah bagiku untuk keluar dari wilayah nyamanku masuk ke wilayah berani yang mungkin sama sekali asing bagiku. Keberanianku untuk meluncur di tantangan Flying Fox dan mengatasi segala ketakutanku, menjadi titik tolakku untuk lebih berani mengatasi berbagai tantangan yang aku hadapi dalam hidup sehari-hari. Di manapun aku akan ditempatkan nanti aku akan siap sedia menerimanya dan terus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Seperti tulisan di persimpangan Medan Utama, “Tujuan akan tercapai kalau kita berani melangkahkan kaki kita. Sebuah langkah besar selalu diawali dengan langkah-langkah kecil. Tugas kita adalah untuk memulai langkah-langkah kecil itu. Tuhan yang akan mengatur langkah-langkah kecil itu untuk menjadi langkah besar”, aku yakin keberanianku menerima segala tantangan itu akan membantuku mengatasi ketakutan dan kecemasanku, keluar dari batasan-batasan dan masuk ke wilayah berani.
Live di tengah komunitas baru ternyata tidak langsung membuatku merasa in. Aku mengalami ketegangan-ketegangan yang seperti menarikku ke berbgai arah. Pertama, aku harus berusaha masuk ke dalam komunitas yang sama sekali baru bagiku. KPTT (Kursus Pertanian Taman Tani) adalah semacam lembaga non-formal yang memberikan kursus kepada para calon petani pengusaha sukses! Berhubung bentuknya adalah asrama berarti aku harus beradaptasi dengan komunitas baru. Lagi pula peminat kursus pertanian yang mayoritas dari luar Jawa, terutama dari Medan, Flores, Kalimantan, dan Papua ini memaksaku berkomunikasi sesuai dengan logat dan budaya mereka. Di satu sisi aku merasa tertantang dan tidak sabar segera terjun ke dalam komunitas, di sisi lain masih ada rasa takut yang menghalangi langkah kecilku.
Kedua, di sana aku diajak untuk mengerjakan pekerjaan seorang petani. Aku mengalami sendiri mencangkul tanah, menyiram tanaman, memanen sayuran yang ternyata sangat melelahkan dan menguras seluruh energiku. Pada awalnya aku merasa satu hari seperti satu minggu. Aku merasa waktu begitu lambat berlalu dan terasa begitu lama. Melihat dua tantangan itu, aku seperti dihadapkan pada dua pilihan, aku diam dan seolah-olah tidak peduli dengan live in-ku, atau berusaha memperjuangkan pengalaman live in ini walau harus merasakan sakit dan lelah luar biasa. Aku sempat berpikir untuk mengambil pilihan yang pertama, karena memang lebih nyaman dan tidak membutuhkan lebih banyak energi untuk melakukannya. Tapi, ketika aku teringat prinsip hidupku, bahwa keberanian untuk mengambil langkah dan inisiatif akan membantu mengatasi segala ketakutan, aku seperti dimampukan untuk lebih berani mengerahkan semua energi yang aku miliki untuk beradaptasi dengan lingkungan baruku dan tidak lari dari kenyataan.
Aku tidak peduli begaimanapun sangar dan seremnya tampang preman mereka, yang aku tahu aku ingin sekali menjadi sahabat mereka. Ternyata benar, keberanianku memulai langkah kecil itu membuatku menyadari bahwa “TAMPANG BOLEH PREMAN, TAPI HATI SELUCU HELLO KITTY”. Pelan-pelan aku mulai merasa in dengan komunitas baruku ini. Aku live bersama mereka dan merasa in dengan budaya mereka.
Ketika aku berdoa mohon kekuatan, Tuhan memberikan aku tantangan agar aku lebih kreastif menjalani hidup. Ketika aku mohon kesabaran, Tuhan memberiku orang-orang yang menjengkelkan. Ketika aku memohon sahabat, Tuhan memberiku orang-orang dengan tampang preman dan sangar agar aku bisa mengalami dan menemukan makna persahabatan yang sejati. Tuhan selalu menantangku untuk selalu memilih lebih kreatif dan produktif. Tuhan tidak memberiku ikan agar langsung dapat aku makan. Tuhan memberiku kail agar aku bisa mengerahkan seluruh energi kreatifku dan dengan demikian aku lebih mampu bersyukur atas segala pengalaman hidup. Tuhan selalu mengajakku untuk PUSH TO THE LIMIT dan masuk ke wilayah berani!
Kebahagiaan Rohani
Ketika aku mengerahkan energiku sampai pada tetes energi terakhir aku seperti merasa mendapatkan energi yang lebih besar untuk menikmati setiap tantangan. Malahan Tuhan memberiku bonus berupa kebahagiaan rohani yang sangat menyegarkan dan membuat hidupku lebih cerah. Keping-keping keberanian yang telah aku kerahkan, membuatku tak lagi merasakan ketakutan yang aku alami sebelumnya. Ketika aku berani mulai mengambil langkah-langkah kecil, Tuhan telah mengatur langkah-langkah besar yang akan menggantikan langkah-langkah kecil itu.
Aku sama sekali tidak menyesal ditempatkan di KPTT Salatiga, malahan aku merasa sangat beruntung lantaran aku bisa menemukan pelajaran berharga untuk perkembangan panggilanku. Aku menyadari panggilanku itu seumpama sebuah benih yang disemaikan Tuhan di seminari. Tuhan telah menancapkan benih itu sejak pertama aku memutuskan masuk seminari, dan sekarang setelah selama hampir empat tahun menghidupi benih panggilan itu aku merasa mulai bertumbuh dan terus menjadi besar.
Pengalaman mengolah tanah, menyiram dan merawat tanaman, dan memanen membuatku merasakan sendiri bagaimana selama ini Tuhan telah bekerja keras merawat panggilanku. Tuhan itu ternyata seperti seorang petani yang setiap hari pergi ke ladang, mencangkul dan menyabit semua hama yang mengganggu, memberikan sentuhan cinta pada benih yang mulai bertumbuh menjadi tanaman dewasa. Panas terik matahari dan lelah yang menyerang tidak menghalangi Tuhan untuk senantiasa setia mencintai benih kehidupan itu. Setiap tetes keringat dan kreativitas Tuhan telah memampukanku untuk mengerahkan semua energiku sampai tetes energi terakhir.
Sekarang ketika aku melihat kembali keping-keping pengalaman itu, aku tak kuasa menahan kebahagiaan rohani yang aku rasakan ketika aku memaksa diriku sendiri untuk mengerahkan seluruh energi walau harus merasakan sakit. Semua yang aku lakukan ini, semata-mata karena aku mencintai panggilan yang telah Tuhan tanam dalam hidupku dan karenanya aku rela merasa sakit untuk memperjuangkannya. Cinta memampukanku untuk mengerahkan seluruh tenagaku dan berani merasakan sakit. Seperti kata Romo Agam, “Cinta tanpa merasa sakit belumlah cinta”.Push to the limit!!!
Showing posts with label refleksi hidupku di seminari. Show all posts
Showing posts with label refleksi hidupku di seminari. Show all posts
Saturday, February 20, 2010
Choose Your Love♥, Love♥ Your Choice
Confirmatio Vitae_Yustinus Pulung Wismantyoko
“Untuk Melakukan kebenaran kita harus tabah dan merelakan apa yang kita inginkan. Termasuk impian kita”.
-Bibi May “The Spiderman 2”-
Choose Your Love♥, Love♥ Your Choice
Pada retret electio MM 2 lalu di Sangkal Putung, Klaten, aku telah memilih cintaku. Aku memilih imam sebagai my way of living, my love, my choice. Masih terekam jelas dalam benakku, bagaimana dinamika yang harus aku jalani untuk akhirnya memutuskan pilihanku itu. Dalam retret itu aku diajak untuk menghadirkan kembali pengalaman dicintai dan mencintai Allah. Mengutip kata-kata fr. Kurnia, “Allah mencintai manusia TANPA SYARAT! Allah mencintai manusia bukan karena DOING apa, bukan juga karena HAVING, tapi karena aku BEING Allah mencintaiku. Jadi, bukan karena apa yang aku miliki Allah mencintaiku, tapi karena memang Allah telah mencintaiku sejak semula dengan demikian aku harus membalas cintaNya. Semua sesi yang telah aku jalani itu sungguh-sungguh telah membantuku untuk menyadari keberadaanku. Akhirnya setelah pembersihan diri lewat pengakuan dosa, aku memutuskan panggilanku untuk menjadi imam! Saat itu aku begitu yakin bahwa kehendak Allah yang terjadi padaku.
Retret electio itu adalah langkah pertamaku. Aku diajak untuk mengenali motivasi panggilanku, mengenali kehendak Allah dan akhirnya CHOOSE MY LOVE. Langkah selanjutnya adalah LOVE MY CHOICE. Aku mencintai pilihanku….ini soal komitmen. Ya…panggilan itu tidak lebih dari komitmen atas cinta yang telah dipilih, komitmen atas suara hati dan tentunya komitmen atas kehendak Tuhan sendiri.
Aku menyadari bahwa panggilan itu seperti layaknya hidupku yang dinamis. Panggilan itu dinamis, kadang ada di atas kadang ada di bawah, kadang begitu berkobar kadang juga kering, garing…kriuk. Perjuanganku mencintai panggilan itu pun tidak mulus-mulus terus, ada kalanya terasa sangat membara namun disaat lain terasa loyo dan tak berdaya. Dinamika memang aku alami dalam perjuanganku untuk setia pada komitmen itu. Love my choice! Kabar baiknya adalah dalam keadaan hiburan rohani, ketika aku sungguh dekat dan merasakan panggilan dan cinta Tuhan, aku percaya bisa memutuskan secara benar. Benar! Benar karena dalam situasi konsolasi aku tidak lagi dipengaruhi godaan-godaan, bersih dari godaan, sehingga apa yang menjadi keputusanku aku percaya itu adalah kehendak Tuhan.
Sekali lagi, aku terus menekankan dalam diriku bahwa panggilan itu tak lebih dari komitmen. Seperti kata Romo Kristi Pr, Point of No-Return, titik di mana kita tak lagi bisa berbalik, aku ingin terus menghayati semangat yang aku rasakan setiap kali mengingat motivasi awalku masuk seminari. Mungkin aku terlalu naïf kalau mengatakan kesempatan ini sebagai Point of No-Returnku tapi cukuplah kalau aku bisa menjadi setia pada panggilanku setiap hari. Aku tidak mau menikmati kebahagiaan rohani ini sendiri. Aku bener-bener terdorong oleh semangat gede untuk membagikan kebahagiaan rohaniku ini kepada sebanyak mungkin orang. Maka, aku akan semakin menghayati panggilan seorang Yesuit sebagaimana telah aku putuskan dalam wawanhati dengan Romo Priyo Pr. Yesuit itu pendosa namun menyadari dipanggil Tuhan ….wah gue banget tuh! Aku akan berjuang menjadi setia dan komit dengan cinta yang telah aku pilih ini: YESUIT! Choose your love, love your choice..
Yesuit itu Pendosa, Wah Gue Banget tuh..!
Retret Medan Utama 11-14 November 2009 di Parakan merupakan “batu besar” sebagai titik tolak untuk menyiapkan perjalanan hidupku selanjutnya. Pada hari pertama retret aku langsung dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang membuka semua rahasia panggilanku: “Pernahkah aku berjumpa dengan Tuhan dalam hidupku? Di mana? Kapan?
Pertanyaan ini begitu menohok sampai ke inti diriku: Pernahkah aku berjumpa denganNya? Dihantar dengan kisah perjalanan dua murid ke Emaus, aku menjelajah ruang-ruang batinku… kisah-kisah hidupku dalam refleksi harianku. Sama seperti Yesus yang menampakkan diri kepada kedua murid yang kecewa itu, aku menemukan titik-titik perjumpaanku dengan Tuhan dalam keping sejarah panggilan yang aku tulis setelah retret electio lalu. Seketika aku menyadari bahwa ternyata Yesus selalu menemaniku namun terkadang aku tak menyadarinya. Aku ingat puncak dari perjumpaan itu terjadi tepat pada tanggal 5 Maret 2009 ketika aku memutuskan panggilan hidupku. Saat itu merasakan kehadiran Tuhan yang begitu nyata dalam doa dan refleksiku. Memang aku tidak mempunyai anugerah untuk melihat hal-hal mistik, namun aku percaya akan Tuhan yang selalu hadir dalam doa dan sejarah hidupku. Aku percaya walau aku belum pernah melihat secara kasat mata. Aku percaya Yesus yang hadir dalam suara hatiku selama ini!
Dinamika retret mengantarku untuk mengalami dan menghadirkan kembali kisah kasih aku dan Yesus. Aku menyadari bahwa hidupku selama ini adalah rangkaian kisah antara aku dan Dia, sebuah kisah cinta. Pada hari kedua aku diajak untuk menyadari dan merasakan cinta Tuhan melalui keluargaku. Tuhan mencintaiku lewat pengalaman kasih keluargaku. Segala kenangan masa kecil bersama keluarga itu tak akan dapat aku lupakan seumur hidupku. Masa ketika aku bergitu tergantung dengan bantuan orang tua hingga kini ketika aku mulai beranjak dewasa adalah sebuah kisah cinta aku dan Dia. Saat itu aku melihat Tuhan yang hadir dalam suka duka hidupku, Tuhan yang memeluk sisi gelapku dan Tuhan yang mencintai kelemahanku.
Renunganku atas cinta Tuhan itu memuncak pada cinta Tuhan kepadaku dalam berbagai pengalaman kedosaanku. Aku ingat sebuah brosur yang berjudul Yesuit itu pendosa. Brosur itu menginsipirasiku untuk bertolak lebih ke dalam diriku. Aku menyadari aku adalah lelaki yang penuh dengan dosa. Begitu banyak dosa yang sempat membuatku lupa akan cinta Tuhan. Namun aku selalu dimampukan untuk kembali bertobat. Tuhan itu seperti Bapa yang baik dalam kisah Anak yang Hilang yang selalu merindukan manusia kembali dalam pelukan kasihnya. Sudah diampuni segala dosaku saja aku sudah senang…apalagi dipanggil, sama sekali tidak pernah tebanyang olehku. Tuhan tidak hanya mengampuni segala dosaku, namun juga memanggilku! Pengalaman kedosaan ini semakin memurnikan panggilanku, membantuku untuk melihat panggilan secara lebih realistis.
Yesuit itu Pendosa, namun dipanggil!!
Melihat hidup faktualku selama ini rasa-rasanya Yesuit itu kok gue banget ya. Retret confirmatio ini semakin menegaskan pilihanku. Aku semakin dimampukan untuk memantapkan diri atas pilihan yang telah aku putuskan. Aku telah memilih cintaku, kini tiba saat ketika aku mencintai pilihanku itu. CHOOSE YOUR LOVE. LOVE YOUR CHOICE!!!
-AMDG-
copyright©theTMProduction
2009
“Untuk Melakukan kebenaran kita harus tabah dan merelakan apa yang kita inginkan. Termasuk impian kita”.
-Bibi May “The Spiderman 2”-
Choose Your Love♥, Love♥ Your Choice
Pada retret electio MM 2 lalu di Sangkal Putung, Klaten, aku telah memilih cintaku. Aku memilih imam sebagai my way of living, my love, my choice. Masih terekam jelas dalam benakku, bagaimana dinamika yang harus aku jalani untuk akhirnya memutuskan pilihanku itu. Dalam retret itu aku diajak untuk menghadirkan kembali pengalaman dicintai dan mencintai Allah. Mengutip kata-kata fr. Kurnia, “Allah mencintai manusia TANPA SYARAT! Allah mencintai manusia bukan karena DOING apa, bukan juga karena HAVING, tapi karena aku BEING Allah mencintaiku. Jadi, bukan karena apa yang aku miliki Allah mencintaiku, tapi karena memang Allah telah mencintaiku sejak semula dengan demikian aku harus membalas cintaNya. Semua sesi yang telah aku jalani itu sungguh-sungguh telah membantuku untuk menyadari keberadaanku. Akhirnya setelah pembersihan diri lewat pengakuan dosa, aku memutuskan panggilanku untuk menjadi imam! Saat itu aku begitu yakin bahwa kehendak Allah yang terjadi padaku.
Retret electio itu adalah langkah pertamaku. Aku diajak untuk mengenali motivasi panggilanku, mengenali kehendak Allah dan akhirnya CHOOSE MY LOVE. Langkah selanjutnya adalah LOVE MY CHOICE. Aku mencintai pilihanku….ini soal komitmen. Ya…panggilan itu tidak lebih dari komitmen atas cinta yang telah dipilih, komitmen atas suara hati dan tentunya komitmen atas kehendak Tuhan sendiri.
Aku menyadari bahwa panggilan itu seperti layaknya hidupku yang dinamis. Panggilan itu dinamis, kadang ada di atas kadang ada di bawah, kadang begitu berkobar kadang juga kering, garing…kriuk. Perjuanganku mencintai panggilan itu pun tidak mulus-mulus terus, ada kalanya terasa sangat membara namun disaat lain terasa loyo dan tak berdaya. Dinamika memang aku alami dalam perjuanganku untuk setia pada komitmen itu. Love my choice! Kabar baiknya adalah dalam keadaan hiburan rohani, ketika aku sungguh dekat dan merasakan panggilan dan cinta Tuhan, aku percaya bisa memutuskan secara benar. Benar! Benar karena dalam situasi konsolasi aku tidak lagi dipengaruhi godaan-godaan, bersih dari godaan, sehingga apa yang menjadi keputusanku aku percaya itu adalah kehendak Tuhan.
Sekali lagi, aku terus menekankan dalam diriku bahwa panggilan itu tak lebih dari komitmen. Seperti kata Romo Kristi Pr, Point of No-Return, titik di mana kita tak lagi bisa berbalik, aku ingin terus menghayati semangat yang aku rasakan setiap kali mengingat motivasi awalku masuk seminari. Mungkin aku terlalu naïf kalau mengatakan kesempatan ini sebagai Point of No-Returnku tapi cukuplah kalau aku bisa menjadi setia pada panggilanku setiap hari. Aku tidak mau menikmati kebahagiaan rohani ini sendiri. Aku bener-bener terdorong oleh semangat gede untuk membagikan kebahagiaan rohaniku ini kepada sebanyak mungkin orang. Maka, aku akan semakin menghayati panggilan seorang Yesuit sebagaimana telah aku putuskan dalam wawanhati dengan Romo Priyo Pr. Yesuit itu pendosa namun menyadari dipanggil Tuhan ….wah gue banget tuh! Aku akan berjuang menjadi setia dan komit dengan cinta yang telah aku pilih ini: YESUIT! Choose your love, love your choice..
Yesuit itu Pendosa, Wah Gue Banget tuh..!
Retret Medan Utama 11-14 November 2009 di Parakan merupakan “batu besar” sebagai titik tolak untuk menyiapkan perjalanan hidupku selanjutnya. Pada hari pertama retret aku langsung dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang membuka semua rahasia panggilanku: “Pernahkah aku berjumpa dengan Tuhan dalam hidupku? Di mana? Kapan?
Pertanyaan ini begitu menohok sampai ke inti diriku: Pernahkah aku berjumpa denganNya? Dihantar dengan kisah perjalanan dua murid ke Emaus, aku menjelajah ruang-ruang batinku… kisah-kisah hidupku dalam refleksi harianku. Sama seperti Yesus yang menampakkan diri kepada kedua murid yang kecewa itu, aku menemukan titik-titik perjumpaanku dengan Tuhan dalam keping sejarah panggilan yang aku tulis setelah retret electio lalu. Seketika aku menyadari bahwa ternyata Yesus selalu menemaniku namun terkadang aku tak menyadarinya. Aku ingat puncak dari perjumpaan itu terjadi tepat pada tanggal 5 Maret 2009 ketika aku memutuskan panggilan hidupku. Saat itu merasakan kehadiran Tuhan yang begitu nyata dalam doa dan refleksiku. Memang aku tidak mempunyai anugerah untuk melihat hal-hal mistik, namun aku percaya akan Tuhan yang selalu hadir dalam doa dan sejarah hidupku. Aku percaya walau aku belum pernah melihat secara kasat mata. Aku percaya Yesus yang hadir dalam suara hatiku selama ini!
Dinamika retret mengantarku untuk mengalami dan menghadirkan kembali kisah kasih aku dan Yesus. Aku menyadari bahwa hidupku selama ini adalah rangkaian kisah antara aku dan Dia, sebuah kisah cinta. Pada hari kedua aku diajak untuk menyadari dan merasakan cinta Tuhan melalui keluargaku. Tuhan mencintaiku lewat pengalaman kasih keluargaku. Segala kenangan masa kecil bersama keluarga itu tak akan dapat aku lupakan seumur hidupku. Masa ketika aku bergitu tergantung dengan bantuan orang tua hingga kini ketika aku mulai beranjak dewasa adalah sebuah kisah cinta aku dan Dia. Saat itu aku melihat Tuhan yang hadir dalam suka duka hidupku, Tuhan yang memeluk sisi gelapku dan Tuhan yang mencintai kelemahanku.
Renunganku atas cinta Tuhan itu memuncak pada cinta Tuhan kepadaku dalam berbagai pengalaman kedosaanku. Aku ingat sebuah brosur yang berjudul Yesuit itu pendosa. Brosur itu menginsipirasiku untuk bertolak lebih ke dalam diriku. Aku menyadari aku adalah lelaki yang penuh dengan dosa. Begitu banyak dosa yang sempat membuatku lupa akan cinta Tuhan. Namun aku selalu dimampukan untuk kembali bertobat. Tuhan itu seperti Bapa yang baik dalam kisah Anak yang Hilang yang selalu merindukan manusia kembali dalam pelukan kasihnya. Sudah diampuni segala dosaku saja aku sudah senang…apalagi dipanggil, sama sekali tidak pernah tebanyang olehku. Tuhan tidak hanya mengampuni segala dosaku, namun juga memanggilku! Pengalaman kedosaan ini semakin memurnikan panggilanku, membantuku untuk melihat panggilan secara lebih realistis.
Yesuit itu Pendosa, namun dipanggil!!
Melihat hidup faktualku selama ini rasa-rasanya Yesuit itu kok gue banget ya. Retret confirmatio ini semakin menegaskan pilihanku. Aku semakin dimampukan untuk memantapkan diri atas pilihan yang telah aku putuskan. Aku telah memilih cintaku, kini tiba saat ketika aku mencintai pilihanku itu. CHOOSE YOUR LOVE. LOVE YOUR CHOICE!!!
-AMDG-
copyright©theTMProduction
2009
Label:
refleksi hidupku di seminari
My Family, My Inspiration
Refleksi Sejarah Hidup _Yustinus Pulung Wismantyoko
Tuhan mengasihiku jauh lebih baik
daripada aku mampu mencintai diriku sendiri...
Pada awalnya adalah pengalaman DICINTAI ALLAH.
Ketika aku diajak untuk kembali melihat jejak sejarah kehidupanku selama ini, aku hanya bisa bersyukur karena Allah sungguh berkarya dalam hidupku. Bercermin dari sejarah hidup ini justru semakin menegaskan pengalaman Allah yang mencintaiku. Bahwa aku dilahirkan, dipilihkan tempat, hidup dan besar di lingkungan keluargaku, itu semata-mata karena Allah mencintai aku. Allah telah meletakkan aku secara sengaja sesuai dengan maksud rencana-Nya. Lingkungan itulah yang mengantarku sampai pada saat ini dan di sini. Lingkungan itulah mempengaruhi pembentukan diriku sekarang. Keluargaku adalah rahmat Allah yang sangat besar bagiku.
***
Sweet Memories…
Sama sekali tak terbayang bagiku, bagaimana perjumpaan kedua orang tuaku kala itu. Namun, aku yakin dan sepenuhnya percaya, benih cinta yang tumbuh di antara mereka berdua telah membuahkan sebuah keluarga yang kental suasana kesederhanaan dan kreativitas. Sama seperti gambaran Allah bagiku, sederhana tetapi tetap kreatif. Kasih sayang yang aku terima dari kedua orang yang paling berpengaruh dalam hidupku itu mendesakku untuk menyadari pengalaman kasih Allah yang tercurah melalui kedua orang tuaku. Ketelitian dan kesungguhan mereka dalam memberi pendidikan dan kasih sayang padaku semakin memantapkanku bahwa Allah sungguh mencintaiku tanpa syarat.
Aku melalui masa kecil di tengah keluarga yang utuh. Ada bapak, ibu, kakak, dan dua adik. Aku sendiri adalah anak kedua dan adalah anak laki-laki paling tua. Oleh karena itu, aku merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keluarga, demikian sering dikatakan ibu kepadaku. Keutuhan keluargaku itulah yang selalu aku syukuri karena aku menyadari banyak orang tidak mempunyai kesempatan semacam itu. Aku bersyukur boleh mengalami kasih dari bapak, ibu, kakak, dan adik-adikku. Sebagai seorang anak aku sendiri tetap merasakan kasih dari orang tua yang adil. Walau kami hidup dalam sebuah “keluarga besar”, tapi itu tidak menjadi masalah bagi kami karena kami sudah terbiasa untuk saling berbagi tanpa merasa kehilangan. Sejak kecil ibu selalu mengajarkan untuk saling berbagi dalam keadaan apa pun. Kasih yang dibagikan malah akan terasa keutuhannya, demikian ibu pernah berkata kepada kami. Itulah sebabnya, ketika aku memutuskan masuk seminari kedua orang tuaku dengan tulus mendukung keputusanku, karena mereka percaya dengan masuk seminari berarti aku sudah membagi kasih sekaligus mempersembahkan diri kepada Tuhan.
Aku tidak pernah menyesal dilahirkan di tengah-tengah keluargaku, malah aku bangga karena pernah mengalami perjumpaan dengan kedua orang tuaku. Sebab, dengan demikian aku bisa merasakan Allah yang mencintaiku saat ini dan di sini (hic et nunc). Allah yang mencintaiku lewat pengalaman manis!!!
Pengalaman Luka Batin….hiks…
Namun, selain berbagai pengalaman manis yang aku alami bersama keluargaku, ada juga pengalaman pahit yang sempat aku cecap bersama keluargaku. Pokoknya, segala pengalaman merasa tidak dicintai, tidak dicintai, tidak diterima, kesepian pada masa lalu yang menggoreskan luka batin dalam hidupku telah membawaku pada pengalaman dicintai Allah yang semakin mendalam. Memang, aku akui aku merasa tidak nyaman ketika harus mengingat-ingat lagi pengalaman disuruh menjilat sandal temanku, atau pengalaman kegelapan masa SMP yang adalah puncak pengalaman aku tidak dicintai orang lain. Tapi, justru dari berbagai pengalaman luka batin itu aku semakin merasakan pengalaman berjumpa dengan Allah yang semakin mendalam. Malahan, aku bersyukur kepada Tuhan karena boleh mengalami sendiri pengalaman kesepian, tidak dicintai orang lain, karena dengan demikian aku semakin merasakan pengalaman aku dicintai oleh Allah.
Satu hal, aku bersyukur kepada Allah karena boleh menghadirkan kembali pengalaman pahit itu, karena dari situ aku boleh mengalami perdamaian dengan masa laluku tanpa aku harus melupakannya. Pokoknya, segala pengalaman pahit dan tidak dicintai di masa lalu itu tidak akan aku hapus dari buku sejarah hidupku. Akan aku biarkan membekas dalam hidupku agar aku bisa melihatnya lagi dan dengan demikian aku bisa merasakan pengalaman Allah yang mencintaiku dalam suka duka hidupku.
Segala pengalaman pahit dan sakit itu tak sebanding dengan berbagai pengalaman cinta yang pernah aku alami sendiri baik dalam keluarga, sekolah, dan dalam setiap sudut kehidupanku. Segala pengalaman cinta itu sudah cukup membuktikan kepadaku betapa Allah mencintaiku apa adanya, tanpa syarat. Betapa Allah telah menyentuh hatiku dan memberi kesegaran bagi jiwaku yang tandus. Terlebih, melalui pengalaman tobat dan pengakuan dosa, aku diajak untuk bisa berdamai dengan setiap orang yang pernah aku jumpai. Tuhan telah mengajarkan kepadaku, agar segala dosa dan kesalahanku diampuni oleh Tuhan terlebih dulu aku harus belajar mengampuni sesamaku walaupun sulit aku lakukan.
Singkat cerita, pengalaman masa kecilku adalah pengalaman bahagia bersama keluargaku. Aku bisa merasa home di tengah keluargaku dan aku mencintai saat-saat bersama keluarga. Berbagai pengalaman entah suka maupun duka itu telah menjadi satu dalam diriku dan semakin memperkaya hidupku. Aku bersyukur atas pengalaman kasih dalam keluarga sekaligus atas pengalaman sakit yang aku lalui bersama keluarga. Aku bersyukur karena aku masih bisa bersyukur! My family is my inspiration…
***
Sekarang, ketika aku telah beranjak dewasa, aku semakin memahami dan merasakan kemerdakaan yang luar biasa. Terlebih, ketika aku telah memutuskan panggilanku untuk menjadi seorang imam pada Retret Electio (2-6 Maret 2009). Segala pengalaman dicintai oleh Allah telah mengubah hidupku. Sentuhan kasih-Nya memampukanku untuk berjuang menanggapi panggilan-Nya walaupun kadang terasa sakit. Tuhan mengasihiku jauh lebih baik daripada aku mampu mencintai diriku sendiri.
Tuhan mengasihiku jauh lebih baik
daripada aku mampu mencintai diriku sendiri...
Pada awalnya adalah pengalaman DICINTAI ALLAH.
Ketika aku diajak untuk kembali melihat jejak sejarah kehidupanku selama ini, aku hanya bisa bersyukur karena Allah sungguh berkarya dalam hidupku. Bercermin dari sejarah hidup ini justru semakin menegaskan pengalaman Allah yang mencintaiku. Bahwa aku dilahirkan, dipilihkan tempat, hidup dan besar di lingkungan keluargaku, itu semata-mata karena Allah mencintai aku. Allah telah meletakkan aku secara sengaja sesuai dengan maksud rencana-Nya. Lingkungan itulah yang mengantarku sampai pada saat ini dan di sini. Lingkungan itulah mempengaruhi pembentukan diriku sekarang. Keluargaku adalah rahmat Allah yang sangat besar bagiku.
***
Sweet Memories…
Sama sekali tak terbayang bagiku, bagaimana perjumpaan kedua orang tuaku kala itu. Namun, aku yakin dan sepenuhnya percaya, benih cinta yang tumbuh di antara mereka berdua telah membuahkan sebuah keluarga yang kental suasana kesederhanaan dan kreativitas. Sama seperti gambaran Allah bagiku, sederhana tetapi tetap kreatif. Kasih sayang yang aku terima dari kedua orang yang paling berpengaruh dalam hidupku itu mendesakku untuk menyadari pengalaman kasih Allah yang tercurah melalui kedua orang tuaku. Ketelitian dan kesungguhan mereka dalam memberi pendidikan dan kasih sayang padaku semakin memantapkanku bahwa Allah sungguh mencintaiku tanpa syarat.
Aku melalui masa kecil di tengah keluarga yang utuh. Ada bapak, ibu, kakak, dan dua adik. Aku sendiri adalah anak kedua dan adalah anak laki-laki paling tua. Oleh karena itu, aku merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keluarga, demikian sering dikatakan ibu kepadaku. Keutuhan keluargaku itulah yang selalu aku syukuri karena aku menyadari banyak orang tidak mempunyai kesempatan semacam itu. Aku bersyukur boleh mengalami kasih dari bapak, ibu, kakak, dan adik-adikku. Sebagai seorang anak aku sendiri tetap merasakan kasih dari orang tua yang adil. Walau kami hidup dalam sebuah “keluarga besar”, tapi itu tidak menjadi masalah bagi kami karena kami sudah terbiasa untuk saling berbagi tanpa merasa kehilangan. Sejak kecil ibu selalu mengajarkan untuk saling berbagi dalam keadaan apa pun. Kasih yang dibagikan malah akan terasa keutuhannya, demikian ibu pernah berkata kepada kami. Itulah sebabnya, ketika aku memutuskan masuk seminari kedua orang tuaku dengan tulus mendukung keputusanku, karena mereka percaya dengan masuk seminari berarti aku sudah membagi kasih sekaligus mempersembahkan diri kepada Tuhan.
Aku tidak pernah menyesal dilahirkan di tengah-tengah keluargaku, malah aku bangga karena pernah mengalami perjumpaan dengan kedua orang tuaku. Sebab, dengan demikian aku bisa merasakan Allah yang mencintaiku saat ini dan di sini (hic et nunc). Allah yang mencintaiku lewat pengalaman manis!!!
Pengalaman Luka Batin….hiks…
Namun, selain berbagai pengalaman manis yang aku alami bersama keluargaku, ada juga pengalaman pahit yang sempat aku cecap bersama keluargaku. Pokoknya, segala pengalaman merasa tidak dicintai, tidak dicintai, tidak diterima, kesepian pada masa lalu yang menggoreskan luka batin dalam hidupku telah membawaku pada pengalaman dicintai Allah yang semakin mendalam. Memang, aku akui aku merasa tidak nyaman ketika harus mengingat-ingat lagi pengalaman disuruh menjilat sandal temanku, atau pengalaman kegelapan masa SMP yang adalah puncak pengalaman aku tidak dicintai orang lain. Tapi, justru dari berbagai pengalaman luka batin itu aku semakin merasakan pengalaman berjumpa dengan Allah yang semakin mendalam. Malahan, aku bersyukur kepada Tuhan karena boleh mengalami sendiri pengalaman kesepian, tidak dicintai orang lain, karena dengan demikian aku semakin merasakan pengalaman aku dicintai oleh Allah.
Satu hal, aku bersyukur kepada Allah karena boleh menghadirkan kembali pengalaman pahit itu, karena dari situ aku boleh mengalami perdamaian dengan masa laluku tanpa aku harus melupakannya. Pokoknya, segala pengalaman pahit dan tidak dicintai di masa lalu itu tidak akan aku hapus dari buku sejarah hidupku. Akan aku biarkan membekas dalam hidupku agar aku bisa melihatnya lagi dan dengan demikian aku bisa merasakan pengalaman Allah yang mencintaiku dalam suka duka hidupku.
Segala pengalaman pahit dan sakit itu tak sebanding dengan berbagai pengalaman cinta yang pernah aku alami sendiri baik dalam keluarga, sekolah, dan dalam setiap sudut kehidupanku. Segala pengalaman cinta itu sudah cukup membuktikan kepadaku betapa Allah mencintaiku apa adanya, tanpa syarat. Betapa Allah telah menyentuh hatiku dan memberi kesegaran bagi jiwaku yang tandus. Terlebih, melalui pengalaman tobat dan pengakuan dosa, aku diajak untuk bisa berdamai dengan setiap orang yang pernah aku jumpai. Tuhan telah mengajarkan kepadaku, agar segala dosa dan kesalahanku diampuni oleh Tuhan terlebih dulu aku harus belajar mengampuni sesamaku walaupun sulit aku lakukan.
Singkat cerita, pengalaman masa kecilku adalah pengalaman bahagia bersama keluargaku. Aku bisa merasa home di tengah keluargaku dan aku mencintai saat-saat bersama keluarga. Berbagai pengalaman entah suka maupun duka itu telah menjadi satu dalam diriku dan semakin memperkaya hidupku. Aku bersyukur atas pengalaman kasih dalam keluarga sekaligus atas pengalaman sakit yang aku lalui bersama keluarga. Aku bersyukur karena aku masih bisa bersyukur! My family is my inspiration…
***
Sekarang, ketika aku telah beranjak dewasa, aku semakin memahami dan merasakan kemerdakaan yang luar biasa. Terlebih, ketika aku telah memutuskan panggilanku untuk menjadi seorang imam pada Retret Electio (2-6 Maret 2009). Segala pengalaman dicintai oleh Allah telah mengubah hidupku. Sentuhan kasih-Nya memampukanku untuk berjuang menanggapi panggilan-Nya walaupun kadang terasa sakit. Tuhan mengasihiku jauh lebih baik daripada aku mampu mencintai diriku sendiri.
Label:
refleksi hidupku di seminari
Refleksi Keputusan Panggilan
FIAT VOLUNTAS TUA!
Oleh: Yustinus Pulung Wismantyoko
Fiat Voluntas Tua!
Tepat pada tanggal 5 Maret 2009, di Rumah Retret Panti Samadi Sangkal Putung, Klaten, Jawa Tengah, aku memutuskan panggilan hidupku. Setelah menjalani berbagai sesi untuk mendisposisikan batin dan pengakuan dosa, pada hari keempat Retret Electio itu akhirnya aku dimampukan untuk memutuskan menjadi seorang imam. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu! Bahwa panggilan itu sungguh bersumber dan berpuncak pada kehendak Tuhan. Aku terus berdoa semoga apa pun yang menjadi keputusanku ini bukan semata-mata karena idealisme pribadiku, tetapi sungguh sesuai dengan kehendak Tuhan.
***
Bercermin dari Kehidupan Aktualku…
Pada awalnya adalah sebuah pengalaman rohani…
Pengalaman berjumpa dengan Allah, mendengarkan, merasakan kehadiran Allah dalam hidupku…
Dalam kesunyian dan ketenangan batin aku sungguh merasakan Allah yang hidup dan nyata hadir dalam berbagai peristiwa manusiawi hidupku selama ini. Dalam suasana doa aku sangat terbantu untuk mengalami sendiri perjumpaan dengan Allah dalam ekaristi, meditasi, kontemplasi, rekonsiliasi, dll. Aku percaya Allah hadir melalui panca inderaku, rasa dan budiku. Allah menggunakan berbagai sarana manusiawi untuk hadir di tengah-tengah kehidupanku. Dalam keadaan hiburan rohani itulah, aku percaya keputusan panggilanku sungguh-sungguh sesuai kehendak Allah. Aku percaya segala belenggu kemerdekaanku; dosa, dan kecenderungan manusiawiku ditanggalkan oleh Tuhan agar aku bisa memutuskan panggilan. Fiat Voluntas Tua!
Keputusanku untuk menjadi seorang imam bukannya tanpa dasar. Dengan tetap membuka mata bahwa panggilan itu pertama dan terutama berasal dari inisiatif Allah, aku mencoba melihat kembali kehidupan aktualku selama di seminari ini. Bagaimana kehidupan aktualku itu sungguh-sungguh memberikan penegasan atas keputusan panggilanku? Bagaimana kehidupan doaku, studi,dan kepribadian? Bagaimana pergulatanku mengolah bibit panggilan yang sudah ditancapkan sejak 16 Juli 2006? Dan, bagaimana kemurnian motivasi panggilanku selama ini?
Ketika aku bercermin kembali dari pengalamanku memutuskan untuk masuk seminari dulu, sama sekali tidak ada motivasi untuk menjadi seorang imam? Imam tak pernah masuk dalam daftar cita-citaku! Sama sekali tidak ada gambaran untuk menjadi seorang imam. Maka, dapat dikatakan bahwa aku memulai petualangan panggilanku dalam sebuah tanda tanya. Bisa dibayangkan orang yang melangkah dalam sebuah tanda tanya, betapa hidupnya penuh dengan ketidakpastian.Tetapi, tanpa aku sadari Tuhan telah menancapkan bibit panggilan sejak saat itu. Tuhan telah merawat dan menyiram bibit panggilan itu dalam sebuah pesemaian (seminarium) bibit panggilan imamat. Harus aku akui, pada awal perkembangan panggilanku Tuhan sendiri yang berkarya dalam hidupku.
Perkembangan-Perkembangan Hidup…
Namun, bukankah hidup adalah sesuatu yang harus dijalani bukan sesuatu yang harus dipecahkan!! Akhirnya aku menjalani masa SMA-ku di sebuah sekolah calon imam, Seminari Menengah Mertoyudan. Sampai selama tiga setengah tahun ini aku hidup di pesemaian ini, toh aku masih bisa bertahan. Bahkan, aku harus mengatakan bahwa telah terjadi perkembangan dalam kehidupanku selama di seminari ini. Mungkin benar sebuah adagium yang berkata: Seminari, Garbage In Gold Out! Aku merasa tidak hanya berkembang dalam hidup panggilanku saja, tetapi lebih dalam dari itu aku mengalami perkembangan dalam setiap aspek kehidupanku. Mulai dari kehidupan doa dan panggilan, kesehatan jiwa-raga, sampai kebiasaan belajarku terolah dengan baik di seminari ini. Akhirnya, kali ini aku tak bisa menahan untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena aku diberi kesempatan untuk menjadi anggota keluarga Seminari Menengah Mertoyudan. Terima kasih kepada semua staf, guru-guruku yang selalu setia, kepada teman-temanku sapanggilan, terima kasih juga kepada semua karyawan di seminari! Sungguh tanpa kehadiran kalian dalam kehidupanku, aku bukan siapa-siapa!
Choose Your Love, Love Your Choice…
Aku telah memilih cintaku, sekarang tiba saat ketika aku harus mencintai pilihanku itu.Yang aku butuhkan sekarang adalah keberanian untuk mempertanggungjawabkan keputusan yang telah aku ambil di hadapan diri sendiri, keluarga, orang lain, dan terlebih di hadapan Tuhan. Sama ketika aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di Seminari Menengah Mertoyudan, aku berusaha sekuat daya untuk menghidupi panggilanku. Lagi pula, dalam perjalananku mengolah bibit panggilan ini aku merasa enjoy dan fun. Aku bahagia bisa merasakan pengalaman bekerja bersama Allah. Sekarang, setelah tiga setengah tahun bulan berjalan, bibit panggilan itu mulai bertunas. Aku akan berusaha mencintai panggilan imamat ini dengan seungguh-sungguh.
Ketika aku memutuskan menjadi seorang imam, aku siap dengan segala risiko yang akan aku terima. Salib! Aku sadar salib dan penderitaan adalah jalan yang akan aku tempuh sebagai murid Kristus. Tapi aku percaya kebangkitan dan kebahagiaan yang akan aku terima tak sebanding dengan salib dan penderitaan itu. Aku percaya ketika aku mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, segalanya akan ditambahkan kepadaku. Maka, Terjadilah padaku menurut kehendakMu!
Yesuit, Gue Banget…!
Pejuanganku untuk mencintai apa yang sudah aku pilih ketika retret electio ternyata tidak mudah juga. Aku menyadari situasi panggilanku seperti orang pada umumnya, kadang di atas kadang di bawah. Tapi aku merasa sangat terbantu setiap kali mengingat hiburan rohani yang aku alami ketika aku memilih imam sebagai way of life- ku. Ya, aku merasakan kebahagiaan yang sulit aku ungkapkan dengan kata-kata ketika aku dengan sadar dan bebas memutuskan masa depanku. Lantas, imam macam apa yang ingin aku hidupi?
Sebenarnya sudah lama aku tertarik dengan panggilan menjadi Yesuit. Aku ingat ketertarikan itu pertama kali muncul ketika aku masih di Medan Pratama. Berawal dari ketertarikan pada seorang Imam Yesuit, sebut saja namanya Romo Nano SJ, aku sendiri merasa ingin menjadi salah satu bagian dari mereka. Aku tertarik dengan karisma Romo Nano dalam membawakan sabda Tuhan secara lebih fun dan anak muda banget! Berangkat dari pengalaman itu aku terus mencoba untuk mengenal Yesuit dari buku-buku dan perjumpaan dengan pribadi-pribadi serikat.
Perjuanganku untuk mencintai Yesuit akhirnya aku proklamasikan ketika Retret Confirmatio di Parakan November 2009 lalu. Saat itu aku sungguh-sungguh mencoba untuk melihat lebih ke dalam diriku, apakah aku sungguh ingin menjadi Yesuit?! Dalam sebuah permenungan tiba-tiba muncul pertanyaan: Jika memang Yesuit, mengapa Yesuit dan bukan yang lain?! Pertanyaan itu membayangiku sepanjang retret, dan memaksaku untuk melihat kembali motivasi panggilanku. Aku menyadari tidak cukup dengan sekedar ketertarikan dari luar saja, lebih dari itu aku perlu melihat motivasi internalku. Maka, aku mencoba untuk kembali melihat kehidupan aktualku selama ini, mengapa aku memilih Yesuit dan bukan yang lain!
Yesuit itu pendosa yang dipanggil Tuhan! Kalimat itu dengan tepat menggambarkan jawaban dari pertanyaanku itu. Aku seperti menemukan kecocokan antara aku dan Yesuit, ada semacam bunyi klik! Ya, aku menyadari bahwa aku ini penuh dosa dan kesalahan, tapi cinta Tuhan kepadaku telah memampukanku untuk menyadari bahwa Tuhan telah memanggilku. Itu saja! Lagi pula, dalam berbagai perjumpaan dengan pribadi Yesuit selama ini aku merasakan kebahagiaan tersendiri ketika bersama dengan mereka. Aku membayangkan menjadi salah satu dari mereka.
Menyadari hal itu, dalam waktu-waktu menjelang solisitasi ini aku mencoba merasakan sendiri hidup seperti layaknya seorang Yesuit. Mengutip tanggapan Romo Agam SJ dalam refleksi harianku, cobalah untuk berpikir seperti Yesuit, merasa seperti Yesuit, bertindak seperti Yesuit, dan hidup seperti Yesuit! Aku mencoba menghidupi semangat Yesuit dalam hidup harianku, magis dan siap sedia!!! Aku sering mengangkatnya menjadi tema refleksi harianku, semata-mata karena aku sungguh mencintai pilihanku ini dan aku bahagia karenanya. Dan tanpa aku sadari, semangat itu telah menjadi bagian dalam hidupku dan aku merasakan kebahagiaan! Maka, jawaban dari pertanyaan, mengapa aku memilih Yesuit dan bukan yang lain adalah karena aku merasa cocok dengan semangat Yesuit yang coba aku hidupi selama ini, dan karena bagiku Yesuit itu gue banget! Aku ingin dibentuk dalam serikat yang berlindung di bawah nama Yesus ini, dan terus berdoa semoga hal ini sungguh merupakan kehendak Tuhan dan bukan sekedar idealism pribadi. AMDG!!! Yesuit gue banget!!!
Oleh: Yustinus Pulung Wismantyoko
Fiat Voluntas Tua!
Tepat pada tanggal 5 Maret 2009, di Rumah Retret Panti Samadi Sangkal Putung, Klaten, Jawa Tengah, aku memutuskan panggilan hidupku. Setelah menjalani berbagai sesi untuk mendisposisikan batin dan pengakuan dosa, pada hari keempat Retret Electio itu akhirnya aku dimampukan untuk memutuskan menjadi seorang imam. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu! Bahwa panggilan itu sungguh bersumber dan berpuncak pada kehendak Tuhan. Aku terus berdoa semoga apa pun yang menjadi keputusanku ini bukan semata-mata karena idealisme pribadiku, tetapi sungguh sesuai dengan kehendak Tuhan.
***
Bercermin dari Kehidupan Aktualku…
Pada awalnya adalah sebuah pengalaman rohani…
Pengalaman berjumpa dengan Allah, mendengarkan, merasakan kehadiran Allah dalam hidupku…
Dalam kesunyian dan ketenangan batin aku sungguh merasakan Allah yang hidup dan nyata hadir dalam berbagai peristiwa manusiawi hidupku selama ini. Dalam suasana doa aku sangat terbantu untuk mengalami sendiri perjumpaan dengan Allah dalam ekaristi, meditasi, kontemplasi, rekonsiliasi, dll. Aku percaya Allah hadir melalui panca inderaku, rasa dan budiku. Allah menggunakan berbagai sarana manusiawi untuk hadir di tengah-tengah kehidupanku. Dalam keadaan hiburan rohani itulah, aku percaya keputusan panggilanku sungguh-sungguh sesuai kehendak Allah. Aku percaya segala belenggu kemerdekaanku; dosa, dan kecenderungan manusiawiku ditanggalkan oleh Tuhan agar aku bisa memutuskan panggilan. Fiat Voluntas Tua!
Keputusanku untuk menjadi seorang imam bukannya tanpa dasar. Dengan tetap membuka mata bahwa panggilan itu pertama dan terutama berasal dari inisiatif Allah, aku mencoba melihat kembali kehidupan aktualku selama di seminari ini. Bagaimana kehidupan aktualku itu sungguh-sungguh memberikan penegasan atas keputusan panggilanku? Bagaimana kehidupan doaku, studi,dan kepribadian? Bagaimana pergulatanku mengolah bibit panggilan yang sudah ditancapkan sejak 16 Juli 2006? Dan, bagaimana kemurnian motivasi panggilanku selama ini?
Ketika aku bercermin kembali dari pengalamanku memutuskan untuk masuk seminari dulu, sama sekali tidak ada motivasi untuk menjadi seorang imam? Imam tak pernah masuk dalam daftar cita-citaku! Sama sekali tidak ada gambaran untuk menjadi seorang imam. Maka, dapat dikatakan bahwa aku memulai petualangan panggilanku dalam sebuah tanda tanya. Bisa dibayangkan orang yang melangkah dalam sebuah tanda tanya, betapa hidupnya penuh dengan ketidakpastian.Tetapi, tanpa aku sadari Tuhan telah menancapkan bibit panggilan sejak saat itu. Tuhan telah merawat dan menyiram bibit panggilan itu dalam sebuah pesemaian (seminarium) bibit panggilan imamat. Harus aku akui, pada awal perkembangan panggilanku Tuhan sendiri yang berkarya dalam hidupku.
Perkembangan-Perkembangan Hidup…
Namun, bukankah hidup adalah sesuatu yang harus dijalani bukan sesuatu yang harus dipecahkan!! Akhirnya aku menjalani masa SMA-ku di sebuah sekolah calon imam, Seminari Menengah Mertoyudan. Sampai selama tiga setengah tahun ini aku hidup di pesemaian ini, toh aku masih bisa bertahan. Bahkan, aku harus mengatakan bahwa telah terjadi perkembangan dalam kehidupanku selama di seminari ini. Mungkin benar sebuah adagium yang berkata: Seminari, Garbage In Gold Out! Aku merasa tidak hanya berkembang dalam hidup panggilanku saja, tetapi lebih dalam dari itu aku mengalami perkembangan dalam setiap aspek kehidupanku. Mulai dari kehidupan doa dan panggilan, kesehatan jiwa-raga, sampai kebiasaan belajarku terolah dengan baik di seminari ini. Akhirnya, kali ini aku tak bisa menahan untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena aku diberi kesempatan untuk menjadi anggota keluarga Seminari Menengah Mertoyudan. Terima kasih kepada semua staf, guru-guruku yang selalu setia, kepada teman-temanku sapanggilan, terima kasih juga kepada semua karyawan di seminari! Sungguh tanpa kehadiran kalian dalam kehidupanku, aku bukan siapa-siapa!
Choose Your Love, Love Your Choice…
Aku telah memilih cintaku, sekarang tiba saat ketika aku harus mencintai pilihanku itu.Yang aku butuhkan sekarang adalah keberanian untuk mempertanggungjawabkan keputusan yang telah aku ambil di hadapan diri sendiri, keluarga, orang lain, dan terlebih di hadapan Tuhan. Sama ketika aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di Seminari Menengah Mertoyudan, aku berusaha sekuat daya untuk menghidupi panggilanku. Lagi pula, dalam perjalananku mengolah bibit panggilan ini aku merasa enjoy dan fun. Aku bahagia bisa merasakan pengalaman bekerja bersama Allah. Sekarang, setelah tiga setengah tahun bulan berjalan, bibit panggilan itu mulai bertunas. Aku akan berusaha mencintai panggilan imamat ini dengan seungguh-sungguh.
Ketika aku memutuskan menjadi seorang imam, aku siap dengan segala risiko yang akan aku terima. Salib! Aku sadar salib dan penderitaan adalah jalan yang akan aku tempuh sebagai murid Kristus. Tapi aku percaya kebangkitan dan kebahagiaan yang akan aku terima tak sebanding dengan salib dan penderitaan itu. Aku percaya ketika aku mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, segalanya akan ditambahkan kepadaku. Maka, Terjadilah padaku menurut kehendakMu!
Yesuit, Gue Banget…!
Pejuanganku untuk mencintai apa yang sudah aku pilih ketika retret electio ternyata tidak mudah juga. Aku menyadari situasi panggilanku seperti orang pada umumnya, kadang di atas kadang di bawah. Tapi aku merasa sangat terbantu setiap kali mengingat hiburan rohani yang aku alami ketika aku memilih imam sebagai way of life- ku. Ya, aku merasakan kebahagiaan yang sulit aku ungkapkan dengan kata-kata ketika aku dengan sadar dan bebas memutuskan masa depanku. Lantas, imam macam apa yang ingin aku hidupi?
Sebenarnya sudah lama aku tertarik dengan panggilan menjadi Yesuit. Aku ingat ketertarikan itu pertama kali muncul ketika aku masih di Medan Pratama. Berawal dari ketertarikan pada seorang Imam Yesuit, sebut saja namanya Romo Nano SJ, aku sendiri merasa ingin menjadi salah satu bagian dari mereka. Aku tertarik dengan karisma Romo Nano dalam membawakan sabda Tuhan secara lebih fun dan anak muda banget! Berangkat dari pengalaman itu aku terus mencoba untuk mengenal Yesuit dari buku-buku dan perjumpaan dengan pribadi-pribadi serikat.
Perjuanganku untuk mencintai Yesuit akhirnya aku proklamasikan ketika Retret Confirmatio di Parakan November 2009 lalu. Saat itu aku sungguh-sungguh mencoba untuk melihat lebih ke dalam diriku, apakah aku sungguh ingin menjadi Yesuit?! Dalam sebuah permenungan tiba-tiba muncul pertanyaan: Jika memang Yesuit, mengapa Yesuit dan bukan yang lain?! Pertanyaan itu membayangiku sepanjang retret, dan memaksaku untuk melihat kembali motivasi panggilanku. Aku menyadari tidak cukup dengan sekedar ketertarikan dari luar saja, lebih dari itu aku perlu melihat motivasi internalku. Maka, aku mencoba untuk kembali melihat kehidupan aktualku selama ini, mengapa aku memilih Yesuit dan bukan yang lain!
Yesuit itu pendosa yang dipanggil Tuhan! Kalimat itu dengan tepat menggambarkan jawaban dari pertanyaanku itu. Aku seperti menemukan kecocokan antara aku dan Yesuit, ada semacam bunyi klik! Ya, aku menyadari bahwa aku ini penuh dosa dan kesalahan, tapi cinta Tuhan kepadaku telah memampukanku untuk menyadari bahwa Tuhan telah memanggilku. Itu saja! Lagi pula, dalam berbagai perjumpaan dengan pribadi Yesuit selama ini aku merasakan kebahagiaan tersendiri ketika bersama dengan mereka. Aku membayangkan menjadi salah satu dari mereka.
Menyadari hal itu, dalam waktu-waktu menjelang solisitasi ini aku mencoba merasakan sendiri hidup seperti layaknya seorang Yesuit. Mengutip tanggapan Romo Agam SJ dalam refleksi harianku, cobalah untuk berpikir seperti Yesuit, merasa seperti Yesuit, bertindak seperti Yesuit, dan hidup seperti Yesuit! Aku mencoba menghidupi semangat Yesuit dalam hidup harianku, magis dan siap sedia!!! Aku sering mengangkatnya menjadi tema refleksi harianku, semata-mata karena aku sungguh mencintai pilihanku ini dan aku bahagia karenanya. Dan tanpa aku sadari, semangat itu telah menjadi bagian dalam hidupku dan aku merasakan kebahagiaan! Maka, jawaban dari pertanyaan, mengapa aku memilih Yesuit dan bukan yang lain adalah karena aku merasa cocok dengan semangat Yesuit yang coba aku hidupi selama ini, dan karena bagiku Yesuit itu gue banget! Aku ingin dibentuk dalam serikat yang berlindung di bawah nama Yesus ini, dan terus berdoa semoga hal ini sungguh merupakan kehendak Tuhan dan bukan sekedar idealism pribadi. AMDG!!! Yesuit gue banget!!!
Label:
refleksi hidupku di seminari
Subscribe to:
Posts (Atom)
