`First of all, let me introduce myself, my name is Yustinus Pulung Wismantyoko. Now, I stay in fourth grade in St. Peter Canisius Minor Seminary Mertoyudan and I am majoring social student. In this letter I will share about my life during in seminary.
Actually, I never thought about my decision to enter seminary. There was no motivation at all that attracted me to be a priest. But, in one meeting with my father, he suggest me to try enter the seminary. In no time at all I registrate my self and I may to be accepted in seminary. I don’t know what truly reason, but since that moment I feel so peace and happy. I feel have already found my deepest vocation. Praise be to God! Now, when I remember again that moment, I feel so fun and it can motivate me to maintain my vocation.
Look, starting by no motivation and no description about seminary, Jesus Christ invite me to experience my transformation. Just like one film that I have already seen, The Transformer, I feel seminary is not difference by the transformer it self. Actually, seminary gives a lot of facilities and opportunities for every seminarians to improve their talents. I my self realize that seminary is the school for priest candidate. Awaring that goal, I try to allow to live as seminarians, the priest candidate. However, everything that has been given by seminary is to transform young man to be truly human being.
I always thank to Jesus because I may to be the member of seminary. By playing music in seminary orchestra, practising to speak up in public speaking, and have fun together in playing soccer, I also can enjoy my transformation. It is not just formation, it is transformation. My favorite activity when the night coming is write down my reflection. It seems like a dairy in common. Just like this paper, I write down my experience in my reflection book and aware the Jesus work today.
Now, when I stay in the final grade in seminary, I realize that seminary has already transformed me into the better person. Seminary has invite me to find out my deepest vocation. Actually, as the final grade seminarians, I have decided to join the Societas de Jesu. I hope I can always be loyal in my choice. Choose my love and love my choice!
That is my story. I hope it can be useful for readers.
Best Regard,
Yustinus Pulung Wismantyoko
Showing posts with label tugas sekolah di seminari. Show all posts
Showing posts with label tugas sekolah di seminari. Show all posts
Saturday, February 20, 2010
Belajar Mencintai Belajar?!
“Kesenangan belajar memisahkan kaum muda dan kaum tua. Sepanjang kita bersedia belajar, kita tidak pernah menjadi tua.”
-Rosalyn S. Yallow-
Belajar mencintai belajar?! Tanda tanya atau tanda seru? Keduanya. Tanda tanya bisa berarti heran, apakah benar untuk belajar saja kita perlu belajar mencintainya terlebih dulu? Tanda seru bisa bermakna optimis bahwa untuk belajar itu kita perlu banget mencintainya dan karena itulah kita perlu belajar mencintainya.
Jujur, saya tidak bermaksud untuk memperumit masalah yang sederhana ini. Melalui refleksi ini saya semata-mata ingin mensharekan pengalaman belajar saya di seminari. Apa yang menjadi motivasi belajar saya? Dan, apakah makna belajar bagi hidup saya? Maka, tanpa berlama-lama lagi, check this out!
Bukan Hobi Belajar
Kalau ada orang bertanya, “Apa hobimu?”, saya berani meyakinkan tidak banyak orang yang hobinya belajar, alias hanya sedikit orang yang gemar berkutat dengan buku pelajaran. Orang cenderung lebih suka olah raga, atau bermain musik, atau apa pun itu asalkan bukan belajar. Boro-boro menjadikan belajar sebagai hobi, mendengar kata belajar saja mungkin banyak orang yang alergi. Saya sendiri pun boleh dikatakan termasuk golongan orang yang malas menjadikan belajar sebagai hobi. Saya lebih suka bermain bersama teman atau bermain bola. Ketika mendengar kata belajar spontan terlintas dalam benak saya something yang membosankan, cupu, dan garing. Saya pribadi paling sulit diajak duduk tenang dan membaca buku. Yah, paling-paling belajar kalau besoknya ada ulangan atau ujian. Singkat cerita, saya sama sekali tidak tertarik menjadikan buku pelajaran sebagai sahabat atau menjadikan belajar sebagai hobi.
Tapi itu dulu. Sekarang, ketika sudah hidup hampir selama empat tahun di seminari saya mulai mencintai belajar. Bukan berarti saya hobi belajar lho, tapi cukuplah kalau saya mulai menemukan makna di balik kegiatan belajarku selama ini. “ Non scholae sed vitae discimus”, sebuah peribahasa Latin klasik sedikitnya telah membantuku menghayati nilai-nilai dari belajar. Terdengar jadul dan agak basi ya, tapi aku secara pribadi merasa selalu tersemangati untuk belajar dengan tekun, paling tidak membantuku untuk tidur saat pelajaran di kelas setiap kali aku menggemakannya dalam hati (he he…). Belajar bukan untuk sekolah tapi untuk hidup. Yups bener banget, kalau belajar semata-mata hanya untuk mencari nilai di kelas bias-bisa kita malah jatuh pada persaingan yang tidak sehat dan kehilangan orientasi belajar yang sesungguhnya, yaitu membentuk manusia yang semakin manusiawi. Maka, tujuan belajar itu sebenarnya tidak jauh-jauh dari pembentukan karakter.
O iya, sebelum lupa, sebenarnya apa sih makna belajar itu? Bagi teman-teman yang sudah mengalami sendiri pengalaman belajar, saya yakin pasti sudah mempunyai refleksi sendiri tentang makna belajar. Saya pribadi sependapat dengan teman dengan teman-teman yang memaknai belajar sebagai sebuah pencarian diri. Sejauh mana kita mampu menemukan diri dari kegiatan belajar itu, karena dengan demikian akan terbentuk manusia yang semakin manusiawi (humanior). Tidak sekedar belajar untuk mengejar nilai, lebih dalam dari itu belajar sebagai proses pembentukan karakter dan penemuan jati diri.
Mungkin terdengar sedikit radikal, tetapi itulah yang selama ini saya hayati dalam merefleksikan makna belajar. Walaupun demikian, saya tetap menyadari seringkali saya lupa dengan prinsip itu dan harus selalu diingatkan lewat refleksi harian. Maklumlah, namanya juga anak muda… Tetapi, setidaknya prinsip itu selalu berhasil membantuku untuk kembali focus dalam pelajaran setiap kali aku mulai mengantuk. Maka seperti dikatakan orang tua kita jaman dahulu, bukan hidup untuk belajar tetapi belajarlah untuk hidup.
Belajar dari Sutan Sjahrir
Seperti kalimat bijak di awal refleksi ini, “Kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan kaum tua. Sepanjang kita bersedia belajar, kita tidak pernah menjadi tua….” Sederhananya, jika kita ingin tetap awet muda teruslah belajar….karena dengan terus mengasah pikiran dan hati kita akan senantiasa diremajakan setiap waktu.
Kalimat bijak itu diungkapkan oleh Rosalyn S. Yallow, seorang pembelajar sejati, untuk semakin mempertegas pentingnya belajar mencintai belajar. Orang senantiasa muda ketika ia terus menjaga semangat untuk belajar sepanjang hayat, dan untuk itu kita perlu belajar mencintai belajar sebagai langkah awal menjadi manusia pembelajar.
Untuk mengilustrasikan sosok manusia pembelajar ini, saya memilih salah seorang founding fathers of Indonesia, Sutan Sjahrir. Putra keturunan Minang ini mempunyai spirit belajar yang luar biasa dan mempunyai keunggulan untuk mengkombinasikan berbagai ideology tanpa terjatuh pada fundamentalisme. Terutama, semangat untuk selalu belajar sampai ke negeri Belanda, dan karena itulah beliau termasuk dalam golongan muda yang paling berpengaruh pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Rahasia kesuksesannya itu ternyata ada pada ketekunannya untuk membaca buku apa saja, terutama buku sastra, agar semakin diperkaya dalam pengetahuan dan imajinasi. Karena hanya dengan demikian, Indonesia dapat merdeka dari penjajah sekaligus merdeka dalam hal jati diri bangsa. Cita-cita luhur itu diwujudkan Sutan Sjahrir dalam semangat belajar sepanjang hayat walaupun pada akhirnya beliau tidak pernah menyelesaikan gelar sarjana hukum di Universitas Leiden, Belanda.
Berefleksi dari semangat belajar Sutan Sjahrir, saya pribadi merasa malu sebenarnya jika melihat kebiasaan belajar saya selama ini. Seminari telah menyediakan begitu banyak fasilitas dan begitu luas kesempatan untuk mengembangkan diri, namun saya kerap tak memanfaatkannya dengan optimal. Sampai di sini, kita semakin melihat pentingnya belajar bagi hidup kita, dan bukan sebaliknya. Namun demikian, semua itu terjadi tentu ada proses belajarnya, termasuk bealajar itu sendiri. Dan, langkah pertama dari seribu langkah itu apalagi kalau bukan dengan belajar mencintai belajar, atau dengan kata lain menjadikan belajar sebagai bagian hidup kita. Untuk menutup refleksi ini, saya punya sebuah kalaimat bijak yang tidak asing lagi di telinga kia, “ Teacher open the door, student enter by their self.” Hidup manusia pembelajar!
Yustinus Pulung Wismantyoko
XII Sosial/25
-Rosalyn S. Yallow-
Belajar mencintai belajar?! Tanda tanya atau tanda seru? Keduanya. Tanda tanya bisa berarti heran, apakah benar untuk belajar saja kita perlu belajar mencintainya terlebih dulu? Tanda seru bisa bermakna optimis bahwa untuk belajar itu kita perlu banget mencintainya dan karena itulah kita perlu belajar mencintainya.
Jujur, saya tidak bermaksud untuk memperumit masalah yang sederhana ini. Melalui refleksi ini saya semata-mata ingin mensharekan pengalaman belajar saya di seminari. Apa yang menjadi motivasi belajar saya? Dan, apakah makna belajar bagi hidup saya? Maka, tanpa berlama-lama lagi, check this out!
Bukan Hobi Belajar
Kalau ada orang bertanya, “Apa hobimu?”, saya berani meyakinkan tidak banyak orang yang hobinya belajar, alias hanya sedikit orang yang gemar berkutat dengan buku pelajaran. Orang cenderung lebih suka olah raga, atau bermain musik, atau apa pun itu asalkan bukan belajar. Boro-boro menjadikan belajar sebagai hobi, mendengar kata belajar saja mungkin banyak orang yang alergi. Saya sendiri pun boleh dikatakan termasuk golongan orang yang malas menjadikan belajar sebagai hobi. Saya lebih suka bermain bersama teman atau bermain bola. Ketika mendengar kata belajar spontan terlintas dalam benak saya something yang membosankan, cupu, dan garing. Saya pribadi paling sulit diajak duduk tenang dan membaca buku. Yah, paling-paling belajar kalau besoknya ada ulangan atau ujian. Singkat cerita, saya sama sekali tidak tertarik menjadikan buku pelajaran sebagai sahabat atau menjadikan belajar sebagai hobi.
Tapi itu dulu. Sekarang, ketika sudah hidup hampir selama empat tahun di seminari saya mulai mencintai belajar. Bukan berarti saya hobi belajar lho, tapi cukuplah kalau saya mulai menemukan makna di balik kegiatan belajarku selama ini. “ Non scholae sed vitae discimus”, sebuah peribahasa Latin klasik sedikitnya telah membantuku menghayati nilai-nilai dari belajar. Terdengar jadul dan agak basi ya, tapi aku secara pribadi merasa selalu tersemangati untuk belajar dengan tekun, paling tidak membantuku untuk tidur saat pelajaran di kelas setiap kali aku menggemakannya dalam hati (he he…). Belajar bukan untuk sekolah tapi untuk hidup. Yups bener banget, kalau belajar semata-mata hanya untuk mencari nilai di kelas bias-bisa kita malah jatuh pada persaingan yang tidak sehat dan kehilangan orientasi belajar yang sesungguhnya, yaitu membentuk manusia yang semakin manusiawi. Maka, tujuan belajar itu sebenarnya tidak jauh-jauh dari pembentukan karakter.
O iya, sebelum lupa, sebenarnya apa sih makna belajar itu? Bagi teman-teman yang sudah mengalami sendiri pengalaman belajar, saya yakin pasti sudah mempunyai refleksi sendiri tentang makna belajar. Saya pribadi sependapat dengan teman dengan teman-teman yang memaknai belajar sebagai sebuah pencarian diri. Sejauh mana kita mampu menemukan diri dari kegiatan belajar itu, karena dengan demikian akan terbentuk manusia yang semakin manusiawi (humanior). Tidak sekedar belajar untuk mengejar nilai, lebih dalam dari itu belajar sebagai proses pembentukan karakter dan penemuan jati diri.
Mungkin terdengar sedikit radikal, tetapi itulah yang selama ini saya hayati dalam merefleksikan makna belajar. Walaupun demikian, saya tetap menyadari seringkali saya lupa dengan prinsip itu dan harus selalu diingatkan lewat refleksi harian. Maklumlah, namanya juga anak muda… Tetapi, setidaknya prinsip itu selalu berhasil membantuku untuk kembali focus dalam pelajaran setiap kali aku mulai mengantuk. Maka seperti dikatakan orang tua kita jaman dahulu, bukan hidup untuk belajar tetapi belajarlah untuk hidup.
Belajar dari Sutan Sjahrir
Seperti kalimat bijak di awal refleksi ini, “Kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan kaum tua. Sepanjang kita bersedia belajar, kita tidak pernah menjadi tua….” Sederhananya, jika kita ingin tetap awet muda teruslah belajar….karena dengan terus mengasah pikiran dan hati kita akan senantiasa diremajakan setiap waktu.
Kalimat bijak itu diungkapkan oleh Rosalyn S. Yallow, seorang pembelajar sejati, untuk semakin mempertegas pentingnya belajar mencintai belajar. Orang senantiasa muda ketika ia terus menjaga semangat untuk belajar sepanjang hayat, dan untuk itu kita perlu belajar mencintai belajar sebagai langkah awal menjadi manusia pembelajar.
Untuk mengilustrasikan sosok manusia pembelajar ini, saya memilih salah seorang founding fathers of Indonesia, Sutan Sjahrir. Putra keturunan Minang ini mempunyai spirit belajar yang luar biasa dan mempunyai keunggulan untuk mengkombinasikan berbagai ideology tanpa terjatuh pada fundamentalisme. Terutama, semangat untuk selalu belajar sampai ke negeri Belanda, dan karena itulah beliau termasuk dalam golongan muda yang paling berpengaruh pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Rahasia kesuksesannya itu ternyata ada pada ketekunannya untuk membaca buku apa saja, terutama buku sastra, agar semakin diperkaya dalam pengetahuan dan imajinasi. Karena hanya dengan demikian, Indonesia dapat merdeka dari penjajah sekaligus merdeka dalam hal jati diri bangsa. Cita-cita luhur itu diwujudkan Sutan Sjahrir dalam semangat belajar sepanjang hayat walaupun pada akhirnya beliau tidak pernah menyelesaikan gelar sarjana hukum di Universitas Leiden, Belanda.
Berefleksi dari semangat belajar Sutan Sjahrir, saya pribadi merasa malu sebenarnya jika melihat kebiasaan belajar saya selama ini. Seminari telah menyediakan begitu banyak fasilitas dan begitu luas kesempatan untuk mengembangkan diri, namun saya kerap tak memanfaatkannya dengan optimal. Sampai di sini, kita semakin melihat pentingnya belajar bagi hidup kita, dan bukan sebaliknya. Namun demikian, semua itu terjadi tentu ada proses belajarnya, termasuk bealajar itu sendiri. Dan, langkah pertama dari seribu langkah itu apalagi kalau bukan dengan belajar mencintai belajar, atau dengan kata lain menjadikan belajar sebagai bagian hidup kita. Untuk menutup refleksi ini, saya punya sebuah kalaimat bijak yang tidak asing lagi di telinga kia, “ Teacher open the door, student enter by their self.” Hidup manusia pembelajar!
Yustinus Pulung Wismantyoko
XII Sosial/25
Label:
aquila,
tugas sekolah di seminari
Pearl Harbor War
Albertus Dona-1
Paulus Tri Ardianto-17
Teodosius Domina-18
Yohanes Deodatus-23
Yustinus Pulung-25
By the bombing of Pearl Harbor, Japan brought US to World War II in Pacific state.
This event was done in December 8 th 1941. That time Japan Naval attacked US Naval station immediately in Hawaii. The result of this attack was the damage and sink +/- 20 battle ships of US, 188 planes and 2403 victims. In Japan side, Japan just lost 55 battle planes from 441 was used.
Japan went to Pearl Harbor without notice until last time. After this event, Japan declared war with US and started to campaign their military in Asia-Pacific. In November 26 th 1941 aircraft insisted if six mother ships were ordered by Vice general Chuichi Nagumo, left Hitokappu Bay in kuril Island and went to Pearl Harbor without communicate radio connection anymore.
On the morning December 7, 1941 Japan military plane destroy all military stations of USA in Hawaii Island. Military station in Hawaii is a greatest station USA. Many ship dock in the Pearl Harbor, include “Barisan Kapal Tempur”. Almost all plane USA was destroy; 188 planes destroy, 155 was had already damage and 2403 American people was die. Battle ship USS Arizona was exploded and sink, the event make 1100 people was died, almost half from American people die. The human corpse become a monument for them who was die on this day, American immortalize who die on this day in the plane.
At Pearl Harbor, the first victim was a little submarine. When the aggression began there were five little submarine class Ko-H were shoot USA’s ships. From the five Japan’s submarines only a submarine could save itself. In that submarine, there were five sailors but only a sailor named Sakamaki Kazuo could escape from the submarine. And then Sakamaki Kazuo could be arrested USA. And he was the first prisoner of war world two.
The biggest possibility, Pearl Harbor’s attack was a catalisator who moved a country to do unreasonable by another case. In just one night he succeeded in uniting all USA for wage world and defeated Japan.
A part of Historian believe that Japan would stole lose although their damage mother ship. In December 8, 1941 US Congress declared war with Japan, but the one from audience in the congress, named Jeannette Rankin is disagree about that. In no time at all Franklin Roosevelt sight the war declared. The government of USA was stole got the army and change to economic war.
This war, as Lexington War and Concord War, gave many influences to the history. It only gave little influences to the USA’s military. Japan’s navy couldn’t sink the USA’s mother ship. But, if only Japan could sink the USA’s mother-ships, it couldn’t help the Japanese for a long-term. This aggression made the USA compelled to engage in the WW II which was made the defeat of the Axis Powers. The Allies’ victory in the WW II and the resurgence of the USA as the world’s biggest power, were form the type of the international-politic of the world since that moment.
Paulus Tri Ardianto-17
Teodosius Domina-18
Yohanes Deodatus-23
Yustinus Pulung-25
By the bombing of Pearl Harbor, Japan brought US to World War II in Pacific state.
This event was done in December 8 th 1941. That time Japan Naval attacked US Naval station immediately in Hawaii. The result of this attack was the damage and sink +/- 20 battle ships of US, 188 planes and 2403 victims. In Japan side, Japan just lost 55 battle planes from 441 was used.
Japan went to Pearl Harbor without notice until last time. After this event, Japan declared war with US and started to campaign their military in Asia-Pacific. In November 26 th 1941 aircraft insisted if six mother ships were ordered by Vice general Chuichi Nagumo, left Hitokappu Bay in kuril Island and went to Pearl Harbor without communicate radio connection anymore.
On the morning December 7, 1941 Japan military plane destroy all military stations of USA in Hawaii Island. Military station in Hawaii is a greatest station USA. Many ship dock in the Pearl Harbor, include “Barisan Kapal Tempur”. Almost all plane USA was destroy; 188 planes destroy, 155 was had already damage and 2403 American people was die. Battle ship USS Arizona was exploded and sink, the event make 1100 people was died, almost half from American people die. The human corpse become a monument for them who was die on this day, American immortalize who die on this day in the plane.
At Pearl Harbor, the first victim was a little submarine. When the aggression began there were five little submarine class Ko-H were shoot USA’s ships. From the five Japan’s submarines only a submarine could save itself. In that submarine, there were five sailors but only a sailor named Sakamaki Kazuo could escape from the submarine. And then Sakamaki Kazuo could be arrested USA. And he was the first prisoner of war world two.
The biggest possibility, Pearl Harbor’s attack was a catalisator who moved a country to do unreasonable by another case. In just one night he succeeded in uniting all USA for wage world and defeated Japan.
A part of Historian believe that Japan would stole lose although their damage mother ship. In December 8, 1941 US Congress declared war with Japan, but the one from audience in the congress, named Jeannette Rankin is disagree about that. In no time at all Franklin Roosevelt sight the war declared. The government of USA was stole got the army and change to economic war.
This war, as Lexington War and Concord War, gave many influences to the history. It only gave little influences to the USA’s military. Japan’s navy couldn’t sink the USA’s mother ship. But, if only Japan could sink the USA’s mother-ships, it couldn’t help the Japanese for a long-term. This aggression made the USA compelled to engage in the WW II which was made the defeat of the Axis Powers. The Allies’ victory in the WW II and the resurgence of the USA as the world’s biggest power, were form the type of the international-politic of the world since that moment.
Label:
tugas sekolah di seminari
Subscribe to:
Posts (Atom)
